Posted by Diki on Jun 27, '08 6:51 AM for everyone Ini cerita tentang pengalaman sahabat saya. Suatu hari dia kedatangan orang penting di kantornya. Layaknya inspeksi mendadak, mereka satu per satu pun mempresentasikan pekerjaan masing-masing. Seperti konsultasi dokter, mereka bergantian masuk ke ruangan si orang penting itu. Layaknya ruang tunggu dokter juga, situasi itu pun sering membuat kebanyakan orang was-was akan hal-hal seperti; 'penyakit yang diderita', 'biaya yang dibebankan', dan lain-lain seterusnya.
Beberapa kolega kantornya sudah keluar dari ruangan itu dengan muka sumringah. Pertanda mendapat hasil yang bagus. Atau komentar yang bagus, syukur-syukur pujian. Bisa selangit rasanya. Orang penting gitu lho... Namun tidak demikian halnya dengan sahabat saya ini. Dari semua kolega kantornya yang masuk ke ruangan tadi, dia malah orang yang paling lama harus berada di ruangan itu. Dan bisa ditebak juga, hasilnya bukanlah kabar baik. Padahal sahabat saya ini bukanlah bodoh. Cemerlang, bisa dibilang begitu.
Ketika keluar dari 'ruangan gas' dengan wajah yang sedih, salah satu temannya dengan penasaran bertanya apa yang terjadi. Dengan masih lesu dia kemudian menjabarkan apa saja yang dikatakan si orang penting tadi di dalam. Bahwasanya sahabat saya itu ternyata kurang dalam ini dan itu. Harus lebih begini dan begitu. Lebih diarahkan ke sini daripada ke situ. Jangan terjebak ke ini, mendingan alihkan ke yang lebih baik. Dan masih banyak lagi. Cukup membuat dia sangat rendah diri di mata teman-temannya. Tentu saja teman-temannya, malah bukan si orang penting itu. Hehehe.
Dari keminderannya kalau dibandingkan dengan teman-temannya yang lain tadi, sebenarnya sahabat saya itu mendapat pelajaran yang jauh lebih berharga dari sekedar 'masuk-ya-senang-keluar dengan muka bangga' tadi. Bagaimana tidak, hanya dia yang mendapat pengarahan langsung dari orang penting tadi. Dia pun berkesempatan mengetahui kesalahan-kesalahan yang dia sering tidak sadari sebelumnya. Sebagai bonus, dia pun mendapat anjuran akan apa yang mestinya dilakukan! Satu kelebihan yang teman-temannya tidak dapat. Walau pun, hehehe... mungkin juga teman-temannya yang lain tadi sudah tidak perlu bimbingan lagi.
Tapi, sesering apa sih kita bisa melihat sebuah proses dengan jelas dan mengerti lalu kemudian mendapat berbuat sesuatu yang lebih baik lagi dari situ? Kalau sedang dalam suasana khusyuk dan ideal setelah membaca bacaan seperti ini sih, saya akan bilang "Setiap saat doooong..." Tapi come on lah, enggak kan?
Saya bersyukur bisa mendengar cerita ini. Seperti menyadarkan saya dari doa-doa yang sering saya tunggu jawabannya. Daripada menunggu, ternyata kita bisa melihat jawaban itu dari sisi lain. Semua tanda-tanda alam, bahkan kejadian sehari-hari. Lagian, saya juga belum pernah ngobrol ama Tuhan; saya berbicara, dia membalas langsung. secara audio! Dia selalu menjawab dengan caraNya.
Si misterius!
Posted by Diki on Apr 20, '08 11:16 AM for everyone Baru-baru ini Kiara, putri sulung kami yang berusia 3,5 tahun, diajak Mamanya jalan-jalan ke PI Mall. Karena bukan akhir pekan, maka agenda perjalanan kali ini tidak seperti biasanya; naik merry go round, ke Gramedia dan kalo beruntung ke toko mainan di Metro atau Toys City.
Seperti sudah menjadi ekspektasinya, Kiara kemudian menanyakan kepada Mamanya:
"Mama, kok kita nggak beli My Little Pony sih?" [My Little Pony adalah mainan boneka kuda kecintaan Kiara yang sangat banyak variannya dan terus menerus mengeluarkan varian terbaru. Cukup mahal untuk sebuah mainan sehingga kami mempunyai kebijakan untuk membelikan Kiara secara berjangka atau pada momen-momen tertentu saja. Pun demikian, kakek, nenek, tante dan pamannya cukup sering mengacaukan kebijakan ini. :)]
"Mama lagi nggak punya duit, sayang..." kata si Mama. Masih mencoba meyakinkan Kiara, si Mama menambahkan, "Nanti yah, Mama kerja dulu biar dapat duit buat beli My Little Pony-nya..."
Dengan kesederhanaan pikiran dan logika seorang anak berumur 3,5 tahun, Kiara pun berkata
"Kalo gitu minta sama Papa aja yah, kan Papa kerja melulu..."
Wiw!!! Butuh beberapa waktu untuk mengkaji lagi kejadian tersebut.
Tentu saja kalimat tadi sangat lucu dari seorang anak kecil. Di mana dalam alam pikirnya dia sudah mulai menyambungkan berbagai informasi yang dia terima kemudian menyimpulkannya dengan sederhana. Kerja, dapat duit. Banyak kerja, banyak duit! Simpel kan?!
Nah sekarang mari berpikir dari sisi si Papa.
Seketika pengalaman, wawasan, keahlian bahkan penghasilan yang sudah dicapai menjadi basi oleh perkataan polos tadi. Apalagi kali ini berasal dari anak sendiri. Otoritas yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun namun jujur. Bukan bos, kolega atau office boy di kantor dengan perintah dan arahannya. Bukan temen sepermainan dengan anjuran dan nasihatnya. Bukan juga pasangan hidup yang masih bisa kita argumentasikan.
Seperti tidak ada gunanya menjelaskan kerumitan dari semua proses yang biasa dilalui manusia dewasa. Baik untuk dia, maupun diri sendiri!
Sebuah kebenaran memang nggak bisa diutak-atik dari segi mana pun.
Kita orang dewasa emang suka ribet sendiri ya...
[Tulisan ini ditulis pada hari Minggu, jam 10 malam, di sebuah ruang editing rumah produksi... Papa sedang bekerja.]
Posted by Diki on Apr 6, '08 3:28 PM for everyone Baiklah saya akan mencoba menyampaikan pesan ini dari akhir. Ketika saat ini kebebasan akses internet di Indonesia terganggu kenyamanannya diakibatkan film FITNA dan statement dari Roy Suryo yang membuat geram kalangan pengguna internet, saya tertarik untuk membumbuinya dengan pesan yang naif. Bahwa sebelum nantinya kita bertekad untuk maju ke Menteri Kominfo atau siapapun yang kita anggap berkompeten untuk mendengarkan suara ini, hendaknya kita bisa berjuang dengan tulisan yang lebih berkualitas lagi memperjuangkan kenapa YouTube, Multiply, MySpace dan lainnya tidak perlu ditutup. Membeberkan segala kebaikan dan manfaat situs-situs tersebut mungkin membantu. Namun jauh lebih ampuh apabila kita bisa membuat sesuatu yang lebih maksimal dari kegunaannya. Membuat situs-situs tersebut memang menjadi sumber informasi yang valid untuk kemajuan bangsa. Memberi inspirasi yang membuat kita bisa berkarya lebih dahsyat lagi. Niscaya tuduhan-tuduhan sembarangan yang dilontarkan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab akan segera terabaikan bak kentut. Berpulang juga kepada kita, apakah kita cukup menjadi seperti kentut saja menanggapi reaksinya; Sama bau dan tak berisi. Bertanggung-jawabkah kita? Teringat segerombolan mahasiswa yang sedang berdemo di jalanan dengan muka berseri-seri. Asal masuk liputan televisi, dapat makan siang gratis, dan hore-hore bersama teman-teman. Di depan, temannya yang sangat serius berorasi sedang memekik segala hujatan tentang kebenaran. Satu orang serius, puluhan lain minus! Teringat juga ketika, lagi-lagi, dari arah kerumunan mahasiswa yang berdemo Mei 98 itu, terlempar sebuah bungkusan berisi kotoran manusia, hinggap ke muka salah satu aparat yang mereka benci itu. Saya tidak perduli lagi siapa yang benar di situ. Namun sepertinya kita hanya suka berkelahi. Bukan berjuang. Saya memang sedih ketika Malaysia mengklaim bahwa Batik adalah milik mereka. Tapi jauh lebih menyedihkan melihat reaksi dari kita yang hanya bisa memaki atau memperuncing sentimen terhadap tetangga kita itu. Sepertinya kita memang tidak cukup pintar menjaga tradisi yang baik. Karena mungkin tradisi selalu dianggap kuno. Bahkan agama. Dan tidak semua orang juga senang membahas keagamaan. Jujur saja. Tiga contoh topik di atas sering sekali menjadi cerminan orang Indonesia dalam menyikapi suatu hal yang secara kandungannya sarat dengan nama bangsanya sendiri: INDONESIA. Norak-noraknya. Esmosi-esmosinya. Fanatik-fanatiknya. Ikut-ikutannya. Menurut teman saya, dari 200juta penduduk Indonesia, hanya 10% yang menggunakan internet. Mungkin hanya 3% dari jumlah tadi yang punya keprihatinan akan masalah pemblokiran situs-situs ini (yang lain mungkin asik upload foto2 di Facebook dll. hehe). Maka dari itu saya memohoooon sekali agar kalau kita memperjuangkan sesuatu itu benar-benar pada konsep yang... keren! Nggak sekedar eforia satu bulan. Atau menjadi slogan-slogan kosong di stiker-stiker mobil. Buktikan bahwa kita juga tidak sama kentutnya dengan mereka yang tidak bertanggung-jawab itu. Bagi yang tidak mengerti jangan juga diajak mengerti. Tidak semua orang harus mengerti kok. 200 juta is a big number, my man! Di Indonesia ini susah sekali mencari orang yang serius akan kemajuan bangsanya. Kalau you salah satunya, bijaksanalah!
Posted by Diki on Jan 29, '08 11:06 PM for everyone As we're all born in this world to play each roles.
One to play hero. One to play bad guy. One to play the pessimist, nor the contrary. One to play Soekarno. Or sometimes Soeharto.
Now, why should we play the whiner?
Posted by Diki on Jan 23, '08 2:01 PM for everyone Di salah satu khotbah kebaktian Minggu yang tak diduga (baca: Gua selalu menyediakan 'ruang kejut' dalam diri tiap kali mendengar khotbah. Selalu ada yang refreshing tentang khotbah Minggu; entah itu inspiring, membosankan atau malah bikin hati bertentangan) terkejutlah gua akan sebuah bahasan yang pendeta sampaikan kepada jemaatnya.
Begini dia berkisah: "Sering sekali di akhir setiap doa, selalu kita meminta ampun dan memohon agar dosa-dosa kita dihapuskan dan kemudian ditutup dengan 'Amin' sebagai wujud kesungguhan doa tersebut. Tapi pernahkah terpikir oleh kita kalau-kalau Tuhan saat itu juga balik bertanya kepada kita 'Dosamu yang mana, anakKu?'..."
Akal manusia gua saat itu juga mengalami ironi yang mirip seperti es campur!
Ada perasaan geli membayangkan skenario tersebut. Bak Tarzan memergoki Alm. Mas Basuki -yang biasanya berperan sebagai pembantu- yang sedang mengeluh segala sesuatunya tentang majikannya. Tonton saja setiap episode Srimulat, pasti ada adegan yang mirip dengan itu. Atau skenario lainnya yang manusia sudah sering mencoba menempatkan keberadaan Tuhan sebagai sesuatu yang 'lebih ringan' untuk dicerna. Memanusiakan Tuhan, mungkin begitu.
Di satu sisi lagi ada sebuah sentilan tersendiri terhadap pola berdoa (paling tidak gua) yang sudah seperti rumusan pelajaran "Sebutkan Nama-Nama Menteri" atau Budi, Ibu Budi dan Bapak Budi. Membuka doa, inti doa, penutup. Selalu berpola seperti itu. Sampai sering kita tidak mengerti kesungguhan doa tersebut karena terlalu wajib dilakukan.
Tapi yang paling membuat gua tertegun adalah pertanyaan balasan tadi.
Dosa? Dosa gua yang mana?? Manusia tentu saja banyak dosanya. Tapi yang mana? Bisa disebutkan satu per satu? God is in details, so true. Apakah kita harus selalu membuat daftar dosa sehari-hari agar tidak lupa? Melupakan dosa juga tidak menghapus dosa bukan? Udah gitu, manusia kan sering juga tuh mengingat-ingat dosa orang lain :)
Runyam ya? Wasaunyam!
Dari situ gua mendapati kebesaran dari makna khotbah tadi. Bahwa masih ada maaf.
Maaf diciptakan bukan sekedar kalau kita sedang ingin memotong pembicaraan atau kata pembuka ketika ingin bertanya. Namun fungsi maaf ketika kita memang sungguh-sungguh meyakininya. Baik dalam imbuhan 'di' maupun 'me'. Dua-duanya harus dengan kesungguhan. Yang mana memang sering kita dapati itu sulit. Gua suka penasaran kalau ada orang yang mendapat gelar 'pemaaf'. Pasti sulit sekali hidupnya. Hehehe...
Jadi apa/siapa yang harus kita maafkan: dia, doi, bapak, ibu, saudara, keadaan, musuh, Pak Harto, sistem, atau malah diri sendiri??
Tapi... apanya?
:)
"Waaaaaapa apa apanya dong Aaapanya dong Apanya dong Dang-ding-dong... Waaaaaapa apa apanya dong Aaapanya dong Dang-ding-dong Dyaaaaaang-ding-dooooooooong...." Makasih Teh Euis...
Posted by Diki on Nov 10, '07 12:46 PM for everyone "Wrg Pdk Indh Ntar mlm akn mli lg pek. di metro pi. Diharapkan partisipasi warga tuk hadir guna menghentikan pek. tsb. Jam 22.00 kita kumpul di parkiran golf. Please fwd"
Demikian sebuah sms masuk malam itu ketika saya sedang konsentrasi membaca buku "Ngobrol Iklan, Yuk!"-nya Budiman Hakim sambil sesekali mengintip ke layar TV yang sedang menyiarkan Liga Inggris.
Merasa tergelitik dengan topik yang sedang panas (bukan hangat lagi) dibicarakan seantero Jakarta bahkan sempat menjadi headline sebuah koran nasional, saya kemudian membalas dengan begini:
"Saya mendukung pekerjaan (busway) tersebut. Jadi saya tidak ikut. Ngga usah ditungguin ya. Btw ini siapa ya?" (kebetulan saya tidak mengenal siapa pengirimnya. Dan nomer tersebut seperti nomer selular umum, bukan nomer-nomer premium biasanya)
Berharap mendapat balasan panas dari pengirim di seberang sana, ternyata pengirim adalah teman saya yang mengaku mendapat forward-an sms ini lalu kemudian membantu menyebarkannya saja.
Perdebatan panas pun urung terjadi. Selain cantik, teman saya ini sepertinya bukan sumber atau pelaku langsung dari 'gerakan' ajakan menghentikan busway tersebut. Jadi buat apa diteruskan?...
Baik saya teruskan di sini saja.
Saya memang mendukung proyek pembangunan busway di Pondok Indah. Dan daerah-daerah lainnya yang sudah maupun dalam perencanaan pembangunannya.
Pun demikian, saya juga tinggal di daerah pemukiman Pondok Indah. Merasakan keramaiannya yang bertambah. Bermacet-macet menuju PI Mall yang jaraknya cuma 'selemparan k*lor'. Berjejal-jejal di jalan. Serobot sana-sini mengambil dan diambil jalurnya. Belum lagi bersaing dengan kendaraan umum yang tak pernah patuh akan kodratnya :)
Singkat cerita: saya juga bagian dari penderitaan macet Jakarta. Di bagian Jakarta mana pun!
Sejauh ingatan saya, gambaran jalanan Jakarta yang masih belum ruwet dan macet hanya terlihat di film-film tahun 70an. Ketika itu masih sering sebuah penghubung adegan digambarkan dengan Bundaran HI. Tidak macet. Bahkan lengang.
Sekarang sepertinya sudah menjadi pengetahuan yang harus umum bahwa Jakarta memang kota macet dan semrawut. Jakarta = macet. Siapa pun tahu itu. Dan bagi yang mengetahui hal ini, tidak ada satu pun yang setuju bahwa hal ini lumrah diterma apa adanya.
Namun ketika akhirnya sebuah rencana penyelesaian masalah ditawarkan, ada pula yang tidak setuju. Lah gimana ini? Setelah 30 tahun (kalau mengukur film-film tadi) menderita macet dan polusi, kok solusi seperti ini malah ditentang sih? Apa yang salah?
Apakah karena masih asyik membeli mobil-mobil dan motor-motor baru sehingga ruas jalan menjadi semakin sedikit untuk dilewati?
Menunggu orang yang baik hati dan tidak sombong untuk mengerjakan proyek ini dengan baik dan benar tanpa sedikit pun noda KKN? Konon, masalah pembangunan busway ini sarat dengan masalah korupsi atau tuduhan senada; masalah klasik itu.
Atau sebagian lingkungannya merasa terganggu akan bisingnya pekerjaan? Toh kompensasi fasilitas penghijauannya sudah disediakan.
Gengsi? Waduh.
Saya tidak menutup mata bahwa masalah-masalah tersebut maupun tidak tersebut di atas memang terjadi dan masih butuh kerja keras untuk penyelesaiannya. Namun tidak bisakah hal ini dilihat sebagai langkah awal untuk sebuah... kebaikan?
Beberapa waktu yang lalu saya juga ikutan ngomel dengan pekerjaan underpass yang terjadi di sekitar Pondok Indah. Sampai beberapa saat saya kemudian lupa akan omelan saya ketika sedang menyetir melewati jalanan itu tanpa menyadari sebuah perubahan telah terjadi menjadi suatu bentuk yang mulai teratur. Saya malu kalau harus mengingat itu.
Dan kebijakan-kebijakan lainnya yang lagi-lagi tanpa saya sadari telah lambat laun merubah pola tidak disiplin menjadi lebih baik. Sebut saja pemakaian helm buat pengendara motor. Pemakaian sabuk pengaman dalam berkendara mobil. 3 in 1, sebuah solusi mengatasi kemacetan dengan anjuran menggunakan kendaraan umum.
Sentimen yang berlarut-larut sudah semestinya dijernihkan satu per satu. Fungsi sebuah tujuan sering menjadi kabur akan faktor-faktor yang menyertai di sekelilingnya. Rancangan-rancangan itu semuanya baik. Tinggal bagaimana manusia menjalankannya dengan baik atau tidak. Lah, manusia itu kita-kita juga bukan?
Pastinya, tidak akan berjalan mulus seperti mimpi. Tapi saya tidak akan berpanjang-panjang akan sebuah gambaran ideal. Kita semua tahu dan mampu.
Dan kalau pun saya tidak beruntung untuk dapat menikmati perubahan baik itu. Saya berdoa agar anak-anak saya bisa.
Masa depan.
Bukan begitu?
Posted by Diki on Sep 30, '07 11:07 PM for everyone Manusia-manusia ekstra itu rela berdesak-desakan seharian suntuk, semalaman yang tak nyaman. Demi sebuah peran yang hanya beberapa detik saja pada sebuah layar. Yang mungkin menjadi batu pijakan mereka nanti, menjadi bintang, dipuja, dicerca dan dipanut... di menit-menit infotainment.
...
Mimpi-mimpi itu merubah wajahnya menjadi sapi. Besok anjing. Lusa mandor. Tahun depan petinggi. Suap nasi anak-istri pun semakin memudar menjadi kerukan berlian Eropa. Dan temannya yang kemarin menjadi anjing juga, mungkin harus dia lahap juga. Agar tidak menjadi harimau yang memangsanya besok.
...
Mimpi itu membawanya ke sebuah gunung yang sepi. Dari sana semua terlihat kecil. Agar bisa diatur maupun dionar. Tidak ada yang mencampuri. Mungkin hanya bisikan angin yang bisa membuatnya bisa bermimpi untuk terbang. Lebih tinggi.
...
Sementara di bawah sana, mereka lapar. Mereka marah. Mereka bingung. Ada juga yang kenyang. Ada juga yang terbuai. Bahkan ada pula yang tak mempunyai apa-apa. Bahkan tak boleh punya apa-apa. Semua karena mimpi.
...
Mimpinya liar tak bertuan. Setiap hari ia bermimpi. Di setiap sudut ia akan menutup matanya. Mencoba memandang dari kelopak hitam matanya. Akan sebuah kenyataan yang ia hindari. Sekalipun ia terbangun, ia akan tidur lagi untuk bermimpi. Tak mau mengakui tuan yang mempunyai kenyataan.
...
Seorang sahabat berdebat tentang mimpi. Dalam mimpinya adalah sebuah negeri yang indah. Damai menurut definisinya. Unik seperti dirinya. Dalam aturannya. Dalam kemauannya. Dan dalam kesedihannya.
...
Di mimpi itu terucap semua kata. Yang tak pernah berani diucap di nyata. Yang urung dilakukan tadi. Yang menjadi obsesi bertahun-tahun. Yang menjadi jawaban dari putik-putik kehidupan. Bersandar pada bunga-bunga tidur. Yang menjadikannya mampu berhasrat. Mengumpat. Bercinta. Jujur mencinta. Membinasakan dan membunuh. Tidak perlu ada dasar, norma atau dogma.
...
Mimpi, tetaplah menjadi sahabatku. Karena kau hanya aku. Bukan tuhan.
Posted by Diki on Sep 4, '07 12:16 AM for everyone Hiruk pikuk stasiun kereta itu tidak kalah dengan gemuruh hatinya pada saat ini.
Berkali-kali ia mengusap kacamata tebalnya, memastikan lagi sosok yang di seberang sana adalah benar sosok yang... Sosok yang tidak bisa diingatnya lagi dengan jelas. Namun sangat bersuara di relung-relung hatinya sekarang.
Diingatnya kembali malam itu. Dentuman musik yang keras disertai kilatan cahaya buatan sesaat. Sesaat itu juga terselip sebuah senyum yang sangat menawan hatinya. Sedetik cahaya lampu itu berhasil merenggut semua perhatiannya. Dan hidupnya. Demikian seterusnya pada hari-hari berikutnya ia ikuti dia di setiap pesta. Hingga ia akhirnya bisa menemukan cara untuk menjumpai Indah dan berkenalan. Lalu bercinta.
Indah namanya. Wujudnya pun begitu. Di setiap sudut ruang, di setiap ruas jalan, di setiap waktu mereka bisa, selalu bercerita tentang cinta, gairah dan rasa yang indah.
Ia kembali memegangi tongkatnya yang basah akibat keringat di tangannya. Gurauan cucunya pun terabaikan sesaat seolah membenarkan kepikunannya. Ingin rasanya berteriak memanggilnya di seberang sana. Seperti dulu mereka berteriak pada malam-malam itu. Mengalahkan suara-suara mesin kereta yang bergemetak. Mengalahkan rindu yang seketika timbul lagi.
Kereta yang berlalu lalang tidak mengubah suasana hatinya. Silih berganti pertentangan berdatangan dari segala jurusan. Segala arah dan tujuan. Dengus kereta itu bagai cibiran yang mereka tantang. Saat itu, tidak ada yang mau mengerti. Hingga peluit masinis yang menghentikan permainan. Dan mereka pun berlalu.
Namun Indah masih terpekur di seberang sana. Putrinya yang ayu sesekali membantunya membetulkan syalnya yang jatuh. Atau membisikkan kata-kata ke telinganya. Kau dengarkah aku, Indah?
Suaranya yang renta hanyalah terdengar sebagai permintaan air minum. Atau tuntunan ke kamar kecil. Bukan dahaga yang membuat kerongkongannya tercekat saat ini. Dan lenguhan itu mungkin hanya terusap oleh balsam. Tapi bukan lenguhan hati ini.
Dengan tenaga yang seadanya ia mengetuk-ngetuk tongkatnya ke lantai sambil bergumam.
Kalau kau ingat senyum ini, lihatlah padaku Kalau kau ingat rasa ini, lihatlah senyumku Kalau kau ingat cinta ini, lihatlah ke depan Menolehlah sayang, sedetik saja untukku
Dan dari batas rel yang berselisih itu. Dari bisingnya suara informasi keberangkatan dan kedatangan itu. Dari semua keramaian yang ada. Yang pernah terjadi. Yang pernah mereka alami. Yang pernah mereka lalui, 50 tahun yang lalu...
Indah pun menoleh ke arahnya. Senyum diwajahnya tak kalah dari airmatanya yang mulai pecah.
Indah ingat, 50 tahun yang lalu itu, ketika ia akhirnya berani menghampirinya di keramaian itu, ia berkata "Kamu sudah memperhatikanku dari tadi, semalam, dan malam-malam sebelumnya. Kenapa baru sekarang menghampiriku?"
Dikenangnya lagi kata-kata itu. Seperti ingin mengulang lagi romansa itu. Permainan itu. Seperti tadi dia hanya pura-pura berbicara kepada putrinya. Indah hanya menutup mukanya seraya mengusap air matanya. Tersipu.
Ia masih terdiam di duduknya. Badan tuanya terkulai oleh lambaian senyuman Indah. Hanya mengangguk mencoba mengimbangi senyum itu. Pun mulai sedikit mengalir air matanya. Dikecup jarinya pelan dan dihembuskannya pada Indah. Mungkin tak seorang pun yang melihat. Tak seorang pun melarang kali ini.
Raga mereka tak lagi bisa mengulang cerita itu. Hanya cinta yang bisa mengulang rasa itu.
Posted by Diki on Aug 31, '07 12:21 PM for everyone Konon, sebuah kata yang biasa digunakan untuk menjelaskan sebuah keterangan yang tidak pasti.
Contohnya: "Konon seseorang pernah berkata..." "Konon gedung ini dulu digunakan sebagai tempat para pejuang berlindung dari serangan penjajah" Dan seterusnya.
Dalam perkembangannya di masa sekarang, ketika permainan kata plesetan sudah akrab digunakan, beberapa orang sering bermain dengan kata ini.
Ketika kata ini mulai digunakan, ada saja yang dengan jahil menyeletuk dengan "Eits! Jangan dibalik." Silakan, secara harafiah membalikkan kata k-o-n-o-n. Yak! Tentunya kata itu berubah menjadi sebuah kata yang konon... jorok.
Entah siapa yang memulai kejenakaan ini. Gua sendiri mulai mendengarnya pada awal tahun 2000an. Ate, temen sekaligus mentor gua, yang memperkenalkannya.
Hingga tadi, ketika membaca-baca ulang tulisan baru gua di blog, gua mendapat percikan ide yang lucu dan harus gua bagi kepada kalian semua. Dan sukur-sukur bisa menjadi tambahan buat perbendaharaan fenomena okem yang selalu menjadi tren bahasa gaul orang Indonesia dan Jakarta.
Begini: Kalau memang setiap kali kata 'konon' diperdengarkan lantas kemudian ada yang menyahut dengan kalimat "Eits. Konon jangan dibalik", kenapa enggak kita memulai sebuah informasi samar tadi dengan... 'kemem'?
Gimana?
Jadi nanti kalo ada yang menanyakan "Siapa sih yang mulai ngeganti kebiasaan memakai kata 'konon' jadi 'kemem'? Kalian tidak perlu menjawab dengan "Kemem katanya yang buat itu adalah si itu..." (kayak legenda Jayus).
Nih die orangnye.
Hahahahahaha....
Posted by Diki on Aug 30, '07 12:53 PM for everyone Buat yang bermain atau mengerti gitar pastilah tahu yang namanya senar. Senar atau dawai atau 'tali' yang bersusun sejajar dari badan hingga leher gitar. Keenam senar tersebut bernada (dimulai dari bawah) E-B-G-D-A-E. Urutan nada tersebut yang nantinya menciptakan kegilaan-kegilaan dalam musik seperti halnya do-re-mi di tuts piano.
Namun ada yang menarik selama puluhan tahun gua memainkannya (Iya. Puluhan. Silakan menebak seberapa lama atau seberapa tua gua.)
Memilih senar gitar sebenarnya tidak begitu susah. Hanya dibedakan apakah berbahan nylon atau string. Merk apa saja sebenarnya sama dalam durasi pemakaiannya.
Pengalaman bersama senar gitar ini yang menarik.
Pada awalnya senar gitar dipasang, diperlukan kesabaran dalam penyesuaiannya dengan nada. Senar harus membiasakan 'diri' dengan keregangan fisiknya. Maklum ketika dibeli, dia dikemas dalam bentuk gulungan. Seperti ketika kita bangun pagi dan harus segera jogging. Pastinya diperlukan pemanasan.
Setelah kemudian semua senar bernada pas, barulah kita bisa memainkan gitar tersebut dengan enak. Semua lagu dan musik bisa keluar menurut emosinya. Lagu riang, melankoli, cadas maupun cengeng. Dalam permainannya acap kali senar tersebut mendapat perlakuan macam-macam. Dibendinglah, disayatlah, dicabiklah, dipetiklah atau bisa juga sekedar dirambas. Senar itu menjadi media sentral penyambung emosi dari segala macam perasaan. Mirip seorang sahabat yang bisa kita ceritakan apa saja. Rahasia sekalipun.
Barulah ketika beberapa lama senar ini menjadi tempat curhatan tadi, sesuatu mulai berubah. Layaknya sebuah produk, tentunya mempunyai masa kadaluarsa. Stamina manusia saja akan menurun menurut umurnya. Mulailah senar tersebut mengalami pengenduran. Seperti awalnya tadi, kesabaran kita diperlukan lagi ketika misalnya tiba-tiba di tengah lagu nada yang kita dapat mendadak fals. Paling sering, selama puluhan tahun gua memainkannya, yang mulai bikin masalah adalah si senar D (urutan keempat, dari bawah). Kita pun mulai mengumpat dengan nada yang sumbang ini. Untuk beberapa yang menjadikan gitar hanya sebagian dari penghias ruangan atau lingkungan mungkin gitar tadi hanya akan ditelantarkan. Seperti mainan yang sudah usang. Berbeda dengan orang yang menjadikan gitar sebagai penyambung hidup, pastinya mereka akan segera menggantinya dengan yang baru, kalau tidak mau dapurnya nggak ngebul.
Konon salah satu musisi kita pernah mendapat kecelakaan ketika sedang bermain gitar. Ketika memainkannya, salah satu senarnya putus dan melenting mengenai matanya. Dari saat itu ia kerap mengenakan kacamata hitam sebagai tameng penampilannya.
Ini pun menyakitkan. Ketika di tengah permainan harus terhenti karena ada senar yang putus. Pilihannya adalah melanjutkan musik dengan harmoni yang tidak lengkap atau tidak sama sekali karena nada yang harus dipetik bertepatan dengan senar yang putus. Tapi memang resiko yang harus dijalani.
Cepat atau lambat senar gitar itu harus diganti.
Karena tidak ada semangat yang tidak luntur. Karena tidak ada hidup yang tidak membutuhkan pembaharuan. Karena tidak ada inspirasi yang bertahan lama.
Semua harus berganti.
Posted by Diki on Aug 8, '07 2:13 PM for everyone Tadi sekitar 20 menit yang lalu ada gempa. Cukup terasa karena gua dan istri masih bangun. Masih khawatir akan apa yang akan dilakukan, kita pun menyalakan TV untuk mencari berita. 15 menit browsing di televisi lokal belum ada juga yang melaporkan berita gempa tadi. Masih sibuk dengan kemenangan Fauzi Bowo - Prijanto. Hingga akhirnya berita itu muncul di CNN. Bahwa gempa itu berasal dari selatan laut Jawa dengan kekuatan 7,4SR. Berikut dengan laporan pandangan langsung oleh koresponden mereka di sana. Yang bukan orang Indonesia, pula. Mirip cerita gempa dulu di Nias.Waktu itu televisi kita sibuk dengan berita kongres PDI yang diliput secara live. Mungkin kebetulan sekali bahwa kegiatan politik sepertinya berbarengan terus dengan bencana alam. Pun itu kesimpulan konyol. Gua hanya prihatin akan ketanggapan kita dalam melihat/mengabarkan kondisi di sekitar. Kenapa mesti orang lain yang tahu duluan daripada kitanya sendiri. Kenapa tidak secepat kamera-kamera infotainment itu menyerbu sasarannya. Kenapa tidak secepat gossip si ini ada apa-apa dengan si itu. Kenapa tidak secepat quick count pemungutan suara (pun cukup disukuri yang satu ini). Kenapa ya?
Posted by Diki on May 9, '07 2:48 PM for everyone |
You Belong in London
|
A little old fashioned, and a little modern.
A little traditional, and a little bit punk rock.
A unique soul like you needs a city that offers everything.
No wonder you and London will get along so well.
|
Posted by Diki on May 9, '07 2:27 PM for everyone |
You Are a Glam Rocker!
|
You put the "show" in rock show with your larger than life self.
No doubt, you are all about making good music...
But what really gets you going is having an over the top show.
Glitter, costumes, and wild hair are your thing - with some rock thrown in!
|
| |